Meringkik di Atas Karang
(Serial Seni dan Budaya)
Mendengar kata
karang apa yang pertama kali muncul dipikiran Anda?
Mungkin laut,
ikan, keras, tajam, batu dan air yang biru. Namun siapa sangka di atas karang yang
luas terdapat sebuah seni yang sangat menakjubkan.
Pulau Binongko,
pulau terujung dari nama akronim empat pulau Wakatobi (Wangi-wangi, Kaledupa,
Tomia, Binongko) menjadi tempat keberadaan kesenian Balumpa. Binongko juga
dikenal dengan sebutan Kepulauan Tukang Besi. Penyebutan Kepulauan Tukang Besi
berasal dari sebuah kampung Sowa Togo, dimana hampir semua mayoritas
masyarakatnya merupakan pemandai besi berupa parang dan pisau.
Balumpa
merupakah sebuah seni pertunjukan berupa tari dan musik. Uniknya kesenian ini
sekilas mirip dengan kesenian Zapin Melayu. Balumpa ditarikan oleh perempuan
yang berjumlah sekitar enam sampai delapan orang dan diiringi dengan musik,
dimana instrumennya berupa Gambusu (gambus), Tiki-tiki, Vokal dan Ganda
(gendang). Sebelum jauh mengulas tentang musik Balumpa, penulis akan mencoba
bercerita tentang sejarah Balumpa menurut beberapa narasumber yang penulis
temui dilapangan.
Jaudin Hamid merupakan
pembina budaya dan sejarah dipulau Binongko juga seorang penabuh ganda Balumpa.
Jaudin mendapatkan informasi sejarah Balumpa
dari La Ode Manehanta yang merupakan seorang tokoh budaya di Pulau
Binongko. Beliau mengatakan bahwa tari Balumpa diciptakan oleh Kapitan Waloindi
yang hidup diperkirakan sekitar tahun 1500 – 1600an masehi. Tari Balumpa
ditujukan untuk menghibur para punggawa kerajaan saat pulang dari peperangan
atau tugas. Kemudian tari Balumpa terus berkembang dan selalu ditampilkan saat
para tamu datang ke kerajaan Waloindi. Namun semenjak pengaruh penjajahan tari
Balumpa sudah tidak pernah ditampilkan kembali.
Pada tahun
1950an, La Ode Manehanta beserta La Ode Itta, Wa Ode Tani Gowa dan Wa Tampe
mencoba memperkenalkan dan mengembangkan kembali tari Balumpa. Dalam segi
gerakan ada tiga jenis gerakan dasar Balumpa, Yang pertama adalah gerakan dasar
yang disebut dengan Gaya Pata-pata, yang kedua merupakan gerakan inti yang
disebut dengan Gaya Kayoa (berputar dan menjinjit) dan gerakan ketiga yang
merupakan gerakan variasi tarian yang disebut Gaya Toro Uda (maju mundur).
Balumpa diartikan sebagai kuda yang melompat sambil meringkik. Namun Jaudin
mengatakan bahwa tari Balumpa bisa di interpretasikan seperti gelombang.
Musik Balumpa
berbirama 4/4 dan selalu identik dengan instrumen gambusu yang berfungsi
sebagai pembawa melodi dan dua pasang ganda pembawa irama atau ritme. Beruntungnya
penulis sempat bertemu dengan Rudi yang merupakan salah satu generasi muda pemetik
gambusu Balumpa. Penulis sempat mencatat tuning gambusu yang dimainkan oleh
Rudi. Senar pertama C# 280Hz (dobel senar), senar ke-2 G# 209 Hz (dobel senar),
senar ke-3 E 161 Hz (dobel senar) dan senar ke-4 C# 141 Hz (senar tunggal).
Lalu Instrumen
ganda dalam tari Balumpa sekilas hampir mirip seperti gendang Ciblon Gamelan
Jawa maupun gendang silat Melayu. Ganda mempunyai dua sisi membran kulit yang
diikat menggunakan senar nilon seperti Gandrang Makassar dan Gimel Suku Sawang
Belitong. Ganda mempunyai dua jenis pola tabuhan yang masing-masing tabuhan
dimainkan oleh dua instrumen Ganda. Ganda pertama (dasar) memainkan pola
tabuhan Bhoati dan Ganda ke-2 (variasi) memainkan pola tabuhan Palari. Sehingga
jika dimainkan bersama akan menghasilkan pola tabuhan yang saling imbal/mengisi
(interlocking).
Selain kehadiran
gambusu dan ganda dalam tari Balumpa juga hadir sebuah instrumen yang unik
bernama Tiki-tiki. Dulunya instrumen ini terbuat dari botol minuman dan ditabuh
menggunakan sendok yang dimana fungsinya sebagai penjaga tempo. Namun karena dikatakan
botol tersebut rawan pecah kemudian diganti menggunakan besi yang terbuat dari
sepul speaker dan tabuhnya menggunakan bekas kunci ring. Fenomena ini
mengingatkan penulis terhadap salah satu penelitian dan pengarsipan dari
‘’akal-akalan warga’’ yang dipamerkan dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN)
2023 di Galeri Nasional Jakarta tempo hari.
Juga tak lepas
pula kehadiran vokal yang isinya adalah sebuah pantun nasihat maupun pergaulan.
Pantun tersebut menggunakan bahasa daerah Binongko yang dinyanyikan oleh satu
sampai dua orang secara bergantian. Secara umum syair pantun dalam masyarakat
Wakatobi disebut Bhanti-bhanti atau Kabhanti.
Keberadaan Sosok
Tidak bertemunya
dengan seorang empu memang menjadi sebuah pertanyaan saat berada dilapangan.
Rasanya data dan relevansi mengenai Balumpa kurang terasa lengkap. Keberuntungan
kedua yang penulis adalah bertemunya dengan sosok empu pemetik gambusu Balumpa
di Desa Jaya Makmur, Kecamatan Binongko, Kabupaten Wakatobi. Desa ini berada di
selatannya Pulau Binongko, cukup jauh dari tempat penulis menginap dan uniknya
transportasi umum di Pulau Binongko adalah motor roda tiga (Viar).
La Ayani (94)
merupakan sosok empu gambusu dan juga penutur Kabhanti. Semasa muda La Ayani
adalah seorang pelayar. Beliau mengatakan bahwa gambusu selalu hadir didalam
perahu, sehingga keterikatan dengan gambusu sudah sangat melekat dalam hidupnya.
Selain lihai dalam memetik gambusu, La Ayani juga mahir membuat gambusu dan
Toba (tempat menaruh daun sirih, rokok serta uang untuk seserahan perkawinan).
Gambusu yang
dimiliki La Ayani terbuat dari kayu sukun dan mempunyai tuning yang berbeda
dengan gambusu milik Rudi. Namun memiliki jumlah dan jenis senar yang sama.
Tuning Senar pertama D 293 Hz (dobel senar), senar ke-2 A 216 Hz (dobel senar),
senar ke-3 D# 159 Hz (dobel senar), senar ke-4 A# 58 Hz (senar tunggal). Sistem
jarak tuning gambusu La Ayani hampir mirip dengan gambusu La Asiru dari Pulau
Tomia yang juga sama-sama seorang pelayar.
La Ayani
memainkan gambusu dengan menggunakan tangan kiri (sinitralitas), menariknya
tuning dan penempatan senar gambusu La Ayani tidak disesuaikan dengan posisi
tangan kiri, namun tetap dengan penempatan senar yang biasa dilakukan oleh
pemain gambusu yang lazim menggunakan tangan kanan. Fakta menarik yang kedua
adalah tempat dudukan senar (bridge) menggunakan paku dan pick terbuat dari
senar nilon berukuran besar yang dipanaskan, sehingga membuat tekstur senar
menjadi keras/kaku.
La Ayani juga
bercerita bahwa semasa dulu Balumpa sering dimainkan saat masyarakat Pulau
Binongko ingin pergi dan pulang dari berlayar. Selain gambusu, keberadaan
instrumen Mbololo (gong) sering di bawa kedalam perahu. Mbololo dibunyikan
untuk menandakan kedatangan dari sehabis berlayar. Bagi masyarakat yang hidup
di daratan, Mbololo dibunyikan untuk menandakan sebuah peristiwa seperti
kematian atau lainnya. Secara semiotika, Gambusu dan Mbololo menjadi ruang ekspresi
untuk berkomunikasi.
Secara geografis,
Pulau Binongko terletak di pulau terujung dari Wakatobi, pulau yang hampir
menyeluruh dipenuhi dengan karang yang panas dan berangin. Belum meratanya
sinyal internet dan listrik mungkin menjadi alasan klasik para pemuda dan
pemudi memilih untuk merantau, beradu nasib di Ibukota Provinsi Sulawesi
Tenggara, Kendari. Fenomena ini membuat terhambatnya siklus seni dan budaya di
Pulau Binongko secara berkelanjutan. Tentunya ini menjadi PR besar bersama untuk
masyarakat, seniman, pelaku budaya maupun pemerintah setempat dan pusat. Agar setidaknya,
literasi yang muncul kepermukaan tidak melulu tentang ikan, biota laut,
keindahan karang dan birunya lautan.

Komentar
Posting Komentar