Rentak Bernyawa

Cerpen (Serial Memanusiakan Instrumen)

Aku ada dari beberapa makhluk hidup. Mereka rela mengorbankan nyawa agar aku lahir di bumi ini. Terkadang aku merasa iri karena hidupku tak lebih bermanfaat dari yang seharusnya. Aku lahir di tanah Melayu Nusantara, panas dan berangin membuatku semakin kuat dan lantang. Aku suka di pangku walau terkadang tidur di sudut pojok rumah yang gelap dan kotor.

Menirukan suara mungkin adalah kelebihanku. Bunyi beduk, kompang, marwas bahkan gong adalah inti pita suaraku. Sedih jika orang-orang membandingkan aku dengan yang lain, jika mereka memahami aku, aku akan setia dan jujur kepada mereka.

Badanku berwarna coklat, bajuku kuning dan mukaku putih. Aku ini jenis apa? Katanya aku ini benda mati, sedangkan aku hidup dari nyawa kehidupan, bahkan hidupnya adat karena adanya peranku. Aku suka jika aku selalu di bersihkan, senyum dan perhatian membuat jiwa dan rasaku semakin nyata, apalagi melihat sahabatku sembahyang dengan khusuk, seakan rasanya ingin memeluk dan bercengkrama terus dengannya.

Di setiap peristiwa adat dan kesenian aku selalu di panggil, untuk apa? Ya, pastinya leader dari semua yang ada.

Misal tradisi Campak di Kepulauan Bangka Belitung, tradisi ini adalah jenis berbalas pantun secara berpasangan. Pembahasan mereka mengenai kehidupan sehari-hari dan tak lepas dari pristiwa saweran, saling merayu dan beradu. Aku penjaga pondasi rhythm, emosi dan komunikasi kami saling bersautan, jika aku bersuara lembut saling imbal dan sedikit nakal, mereka merespons dengan suara yang genit dan jenaka. Kendatipun penonton ikut bersorak dan berjoget dengan khidmat mendengar suaraku.

Joget dan menari ikut serentak suaraku, walaupun terkadang suaraku menjadi sembab dan lembab karena dingin, aku tetap dipaksa untuk berbicara, mereka memaksa hingga mulutku sobek hingga pecah. Aku tidak marah tidak pula mencaci maki karena aku ikhlas untuk kehidupan.

Suara dan ritme ku sangat dekat dengan bangsa Eropa, aku tidak tau mungkin karena dulu nenek moyangku seorang pelaut, karenanya aku bisa bertemu dengan orang luar dan saling menyapa. Tapi, aku sering dipaksa untuk bermain bersama, berkenalanpun hanya sebatas membaca melalui kertas putih, alasannya karena perkembangan jaman dan embel-embel kata kontemporer, jadinya timbul rasa tersakiti dan tumbal eksperimentasi.

Sudah banyak tulisan mengenai diriku termasuk Tengku Lukman Sinar dalam bukunya Jati Diri Melayu. Tengku menyebutkan bahwa pada awalnya orang melayu tersebar di berbagai daerah seperti Thailand selatan, Malaysia Barat dan Timur, Singapura, Brunei Darussalam, Kalimantan Barat, Tamiang (Aceh Timur), pesisir timur Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan pesisir Palembang.

Nah benarkan, aku ini dimana-mana. Banyak yang suka denganku, tapi aku mohon jaga dan perlakukan aku dengan baik ya !

Di Riau namaku bebano begitupun negeri Kepulauan Bangka Belitung. Masyarakat melayu Deli Serdang akrab memanggilku pakpong. Negeri Melayu Singapura memanggilku rebana begitupun juga Malaysia. Di Kalimantan Barat tepatnya di Pontianak biasa memanggilku gendang rebana. Yang jelas aku bulat dan seperti mangkok Cina, aku keluarga gendang dan lahir di dalam bangsa melayu. Tak usah repot-repot, cukup panggil aku gendang melayu, hati dan jiwaku sudah sangat senang dan bahagia.

Tidak susah untuk mengajakku berkomunikasi, cukup pukul aku dengan tanganmu sesuka hati aku akan menanggapi. Tapi jangan suruh aku berbicara dengan  jelas dan fasih, tanyakan pada dirimu sudah benarkah cara dan perlakuanmu padaku.

Aku sangat suka bila pagi hari di dudukan di teras atau halaman rumah. Bukan cuma manusia yang butuh vitamin dan udara segar, akupun juga mau. Bila terasa dingin, tolong pakaikan aku jaket, kalau tidak besok aku akan sakit, suaraku menge-bass seperti beduk masjid yang bermuka pucat itu.

Bersilat adalah seni olahraga yang sangat tersohor di bangsa melayu. Gerak tangan, langkah kaki hingga lenggok badan seperti tidak ada tulang, lentur tapi kuat. Kakinya menghentak ke tanah, kepalanya seperti burung, tangan dan badan bergerak kesana kemari. Melompat tinggi seperti harimau, menangkis tak terasa sakit, menahan bak perisai baja, memakai songket dan ikat kepala ciri khasnya.

Semua itu kurang lengkap jika aku tidak ada. Suaraku seperti jiwa penyeru, gaungku seperti singa dan bicaraku adalah gerak dan nafas mereka. “Tung” kepalanya bergerak, “Tak” tanganpun ikut memukul, “Dung” badan mengelak, “Pang” tiba-tiba kaki menyibak.

Bergeraklah aku akan memberimu kekuatan !

Berirama cepat, tegas membuat suasana semakin semarak dan hormon serta emosi semakin meningkat. Hadirnya serunai menjadi vokalis ulung yang menambah roh disetiap lenggak-langgok tangan, kepala, serta tekukan kaki. Terkadang terlihat selipan senyum simpul di ujung mulut pesilat, ah aku sangat bersenggama dengan rasa ini.

“TUNG TAK DUNGKAPANG, TUNG KATAK KUDUNG KAPANG“. Ikutilah suaraku, groove ini akan menjadi nikmat bila kita bersama-sama. Jangan takut, jangan khawatir dan risau, rasakanlah energi ini, alam telah menyertai kita. “EWAAAAHHHH” yaaa begitu, teruslah sentuh aku dengan hatimu sahabat.

Ada petatah-petitih yang berbunyi “Alam takambang menjadi guru” yang berarti inspirasi yang lahir dari lingkungan alam. Seperti terciptanya alunan melodi yang menggambarkan deru ombak, desir gesekan pohon, suara fauna yang ditafsirkan dalam gerenek melayu, cengkok dan ritme lagu.

Sedikit menelisik suaraku dari sudut pandang tempo irama, ada tiga tempo yang lazim diperdengarkan. Yang pertama tempo perlahan, tempo ini bersifat lemah lembut dan syahdu, biasanya menggunakan rentak senandung atau rentak asli atau bisa juga disebut rentak langgam. Yang kedua tempo sederhana atau sedang, tempo ini menggambarkan kepribadian yang tegas dan sopan, ialah menggunakan rentak mak inang, zapin dan ghazal. Dan yang terakhir tempo cepat, tempo yang bersifat ceria, ramah dan gembira, adapun ialah rentak joget dan ronggeng.

Semua itu diartikan dengan falsafah rentak kehidupan dunia, gambaran dari bentuk kehidupan manusia yang berdeba-beda, bagaimana seorang insan manusia mencorakkan atau membuat warna dalam kehidupannya. Sangat indah bukan !

Sekarang kembaranku sudah banyak. Mereka menggunakan baju dan style yang berbeda, aku pernah bertemu dengan mereka. Aku lihat baju mereka sudah ada sentuhan tali, mungkin biar terlihat keren dan mengikuti jaman. Ada juga yang sudah menggunakan kalung yang terbuat dari besi dan bahkan muka mereka sudah dioperasi plastik berbahan mika. Mereka melihatku dengan tajam, sepertinya ada yang aneh dari penampilanku. Aku mengira mereka akan merendahkanku, tapi ternyata tidak mereka sangat menghormatiku katanya hadirnya mereka karena dari peradabanku.

Masa lampau dan sekarang, klasik dan modren, lama dan baru, kusam dan rapi, kita tetaplah “GENDANG MELAYU”.

Jaman kita berbeda tapi tujuan kita adalah sama.

Akan aku ceritakan kisah persahabatanku bersama Muhammad Kholidi yang biasanya akrab dengan panggilan Iyoung. Iyoung lahir di Deli Serdang, Sumatera Utara. Semasa duduk dibangku sekolah Iyoung sering dilempar dengan penghapus papan tulis karena asik bergendang di meja. Salah seorang guru berkata kepada Iyoung “dari pada meja itu hancur kau pukoli, baguslah gendang pakpong tu ko pelajari. Itu gendang atok-atok mu dulu”.

Terketuklah hati Iyoung, mulai saat itu dia mulai mempelajari lebih dalam tentang aku. Iyoung merasa bahwa aku harus di lestarikan dan dikembangkan, ini adalah sebagai bukti cinta dan sayang Iyoung kapada atok (kakek), Iyoung sangat sayang atok.

Masuk lebih dalam ke diri Iyoung, bahwa saat Iyoung berumah tangga dan sampai dikarunia dua orang anak, aku banyak membantu ekonomi keluarga Iyoung. Dari aku Iyoung bisa pergi keliling kemana-mana. Iyoung sangat mencintai aku dan aku lebih mencintai dirinya. Terimakasih Iyoung berkatmu aku benar-benar merasa hidup.

Begitu indah dan menawan bukan !

Tak hanya Iyoung, sahabatku yang lahir di Sungai Pakning Bengkalis Riau juga sangat dekat dengan ku.

Ia adalah Hardi Wahyudi, dengan ku Hardi bisa bertemu dengan player di dalam maupun luar negeri. Aku memberi dampak banyak bagi dirinya, dari hidup serta pergaulannya. Hardi sangat cinta kepadaku sampai-sampai dia semakin yakin untuk meng-eksplore skill dan teknik untuk bisa lebih mengenal diriku. Kemanapun Hardi pergi aku selalu dibawa, dikenalkannya dengan orang lain, dikenalkannya dengan alat musik lain, dikenalkannya dengan budaya lain. Oohh aku sangat hidup dalam kehidupannya. Teruslah seperti ini, aku ingin bersamamu sampai tua nanti.

Beda tanah, beda cerita pula !

Kisah cinta dan kasih yang tercurah dari Riduan Zalani, salah satu seniman melayu dari negeri Singapura juga cerita yang sangat menarik untuk diabadikan. Rasa kenikmatan dalam hidup adalah sebuah peluang untuk dapat terus bernafas dalam titian, yang penuh warna dan makna yang sangat indah, walaupun kadang kala tersembunyi dalam takdir sang kuasa.

Begitupun juga perasaan Riduan Zalani saat setiap kali bercengkrama dengan aku (Rebana/Bebano/Bano). Saat memandang dan mendengar bunyi suaraku, Riduan senantiasa terpikat, bergairah dan tertantang. Aku yang dapat menghasilkan suara dan irama dengan bahasaku sendiri, yang dapat merangsang pemusik-pemusik, penonton dan siapa saja yang mendengar. Aku yang datang dari kesatuan alam dan kewibawaan manusia. Riduan yang masih belum puas menjelajahi aku dan dirasa masih ada misteri. Aku yang memberikan kebebasan dalam lingkungan batasan acara. Aku yang hidup dilapisi adab dan menjadi lambang citarasa, roh dan rentak orang melayu.

Riduan Zalani mengakui bahwa masih mentah dan muda untuk bisa memahami segala pelosok kekayaan ilmu dan falsafah di balik diriku. Namun pengalaman bersamaku selalu memberikan dorongan, ilham dan harapan, agar aku dapat terus hidup berdialog serta di gendong oleh anak Melayu Nusantara. Riduan hidup dalam rasa cinta dan syukur atas hidup ditemukan dengan diriku.

Nilai wahyu dan inspirasi alam terbentuk menjadi budaya masyarakat dan mengerucut ke sebuah bentuk seni dalam medium perawatan, komunikasi, pendidikan, hiburan hingga pemujaan. Pengungkapan itu diaplikasikan kedalam sebuah seni, baik itu seni suara, seni rupa, seni gerak maupun permainan tradisional.

Entah itu nanti bersifat fasid atau sahih.

 

 

Komentar

  1. Keren ,puitis dan mengandung banyak makna

    BalasHapus
  2. Bagus πŸ‘
    Semangat berkarya lagi

    BalasHapus
  3. Gilaa ini sihh kerenn bangett renoo πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ”₯πŸ˜„πŸ‘πŸ‘πŸ‘, sukses selalu renoπŸŽ‰πŸ‘

    BalasHapus

Posting Komentar