Urang Sekak dan Samuderanya

(Serial Seni dan Budaya)

URANG SEKAK DAN SAMUDERANYA

Pulau Belitong, sebuah pulau kecil yang berada di sebelah selatan pulau Sumatera yang masuk kedalam Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ternyata memiliki keistimewaan yang tersembunyi. Atau orang-orang mungkin lebih tepatnya lebih mengenal dengan sebutan Laskar Pelangi sang pejuang mimpi.

Terbentuk dari gugusan pulau-pulau, tak heran, laut menjadi tempat bernaungnya segala kebutuhan dan harapan. Dari segala aktivitas hingga petualangan. Katanya di pulau ini terdapat sebuah kelompok suku yang sedari dulu sudah mendiami perairan, ialah Suku Sawang. Sawang yang berarti samudera dan mereka lebih dikenal dengan sebutan Urang Sekak telah lama tinggal di pulau ini. Mereka adalah sebuah kelompok suku pelaut sang penakluk samudera luas yang sekarang telah tinggal di daratan Pulau Belitung. Diperkirakan Suku Sawang sudah tinggal di Pulau Belitung sejak abad ke-16 atau 17 (Jurnal Eki Ripan J.P.R Tanjung dan Leli Yulifar, 2)

Dulu,  Kulek merupakan kapal Urang Sekak yang segaligus tempat mereka tinggal selama di laut. Di bagian belakang terdapat sebuah atap menyerupai rumah yang berdinding kulit pohon. Kulek menjadi saksi perjalanan mereka di samudera lepas, namun sekarang Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur adalah tempat tinggal mereka. Tempat tinggal itu bernama permukiman Kampung Laut. Kini samudera mereka bukan lagi air (laut) namun sepenuhnya berubah menjadi tanah (darat). Perpindahan Suku Sawang tak lepas dari pengaruh eksternal, tepatnya pada tahun 1936 mereka dipekerjakan oleh perusahan timah yang dikelola oleh Belanda (Jurnal Eki Ripan J.P.R Tanjung dan Leli Yulifar, 3).

Terlepas dari perpindahan mereka ke daratan, Suku Sawang sampai saat ini masih melaksanakan beberapa prosesi adat, seperti Prosesi Buang Jong. Prosesi ini merupakan bentuk syukur dan meminta keselamatan kepada roh laut, walaupun kenyataannya, sekarang mereka lebih memilih untuk menambang timah dari pada mencari rezeki ke tengah lautan lepas. Point penting dalam prosesi ini terletak pada Jong (miniatur kapal) untuk di larung ke laut dan Balai Berangin (menyimbolkan rumah roh laut) yang di tancapkan di pinggir pantai. Jong juga di lengkapi dengan beberapa sesajen, seperti makanan dan lain-lain. Namun sayang, makanan tersebut telah berubah menjadi snack makanan anak kecil yang biasa ditemukan di toko-toko terdekat. Nantinya setelah Jong yang di larung sampai ke tengah laut, mungkin makanan tersebut akan berubah menjadi sampah laut berupa plastik.

Prosesi Buang Jong juga banyak mengandung sastra lisan, semalam suntuk sebelum pelarungan Jong di pagi hari, mereka mengadakan sebuah ritual yang berisikan mantra-mantra dan sebuah tutur yang disenandungkan berupa nyanyian, tari dan juga musik. Tutur ini terbagi beberapa bagian, runtut mengisahkan perjalanan mereka dari samudera lepas hingga ke daratan. Tutur sastra lisan ini dinamakan Sampan Geleng, Gajah Menunggang, Nyusor Tebing sampai Ketimang Burong. Apa cerita dan bagaimana liriknya, akan saya tuliskan secara singkat seperti cerita yang saya dapat dari beberapa narasumber yang saya temui.

Sampan Geleng

Sampan Geleng merupakan cerita Urang Sekak semasa di tengah samudera lepas. Sampan yang berarti kulek dan geleng merupakan fenomena terombang-ambing akibat gelombang besar di tengah samudera. Menurut narasumber (Nek Inem, Orang Suku Sawang) menjelaskan bahwa, dalam peristiwa ini mereka terhempas badai, dan hanya berharap pada angin yang membawa mereka menuju laut yang  tenang. Pendapat ini selaras dengan isi inti dari tutur sastra lisan yang mereka nyanyikan. Berikut inti tutur sastra lisan senandung Sampan Geleng.

Sampan Geleng malang di malang

Kenari ngijau-ngijau daun kenari

Cuci lobak airnya dingin

Jao-jao datang kemari

Dipukul ombak serete angin

Dalam penggalan akhir syair tersebut, tersirat bahwa Urang Sekak mencoba mengartikan kulek mereka di hempas atau terombang-ambing (dipukul) dari ombak, bersamaan (serete) dengan angin bahwa mengibaratkan kulek mereka berjalan atau berlabu bersama angin yang membawa mereka ke tempat (laut) yang tenang atau aman.

Gajah Menunggang

Tahukah anda dengan Makara? Makara merupakan hewan mitologi kepercayaan Hindu berupa monster laut menyerupai gajah yang hidup dalam laut (  https://nationalgeographic.grid.id/read/132863471/makara-monster-laut-berbelalai-dalam mitologi-hindu-dari-srilangka ). Menariknya, Suku Sawang juga mempercayai keberadaan hewan ini. Dulu, Mereka pernah melihat Makara terdampar dalam keadaan mati di sebuah pantai yang ada di Pulau Belitong.

Selain cerita di atas, Gajah Menunggang diartikan juga sebagai bentuk perasaan mereka saat mengalami hempasan gelombang. Mereka berpendapat bahwa saat berada di atas Kulek dengan hempasan gelombang yang besar seperti mengendarai gajah. Pertanyaannya, apakah di Pulau Belitung dulu banyak terdapat hewan gajah? dan mungkinkah, orang Suku Sawang pernah menunggangi gajah, sehingga perasaan dan pengalaman empiris itu muncul?

Baiklah, dari pada penasaran, berikut syair tutur sastra lisan Gajah Menunggang.

Gajah manunggang dibesar ngalun dari gelombang

Seperti solo, pulanglah balek, kejalan baru

 

Nyusor Tebing

Setelah mengarungi samudera luas yang entah ujungnya dimana, kini Urang Sekak telah berada di pinggir pulau, tepatnya Pulau Belitung. Prihal ini selaras dengan cerita tutur sastra lisan Nyusor Tebing. Nyusor Tebing diceritakan sebagai momentum mereka untuk Nyusor (menyusuri) saat mencari makan di pinggiran pulau Belitong, tepatnya di antara tebing-tebing (karang atau batu). Pengalaman ini pernah di alami langsung oleh Nek Inem, salah satu narasumber dari Suku Sawang. Nek Inem menjelaskan, dulu semasa kecil, beliau pernah merasakan hidup di dalam Kulek. Saat peristiwa Nyusor tebing, beliau menjelaskan di minta orang tuanya untuk menjaga adik beliau di dalam Kulek, sedangkan orang tuanya pergi mencari makanan seperti kerang yang berada di pinggir tebing (karang atau batu).

Moment yang sangat menarik, di dalam imajinasi saya saat mendengarkan cerita beliau bahwa memang betul sungguh menakjubkan perjuangan orang-orang Suku Sawang saat mencari penghidupan untuk bertahan hidup.

Berikut tutur sastra lisan Nyusor Tebing saya tuliskan, untuk lebih dalam ber-imajinasi.

Rumahmu ya raban ya ngale bedinding kace

Rambut lah keriting rambutnyelah keriting

Rambut lah keriting menusurlah kening

Ibarat lah bulan ya ngale baru lah mengambang

Ketimang Burong

Dalam peristiwa ini, tutur sastra lisan Urang Sekak sudah menyebutkan simbol-simbol tentang dunia daratan Pulau Belitong. Seperti penyebutan Burong (burung) Pipit. Mengapa? Jelas demikian, secara logika mungkinkah mereka melihat burung pipit di tengah samudera? Atau prihal ini memang betul menunjukkan bahwa mereka sudah berinteraksi dengan dunia daratan. Dalam tutur sastra lisan Ketimang Burong juga menyebutkan burung pipit sedang memakan padi.

Berikut tutur sastra lisan Ketimang Burong.

Burong ketimang ketimanglah burong

Burong pipit memakanlah padi

Timang mencekai-cekai timang

Gusong ngare dikarang mambang

Perjalanan serta pengalaman empiris Urang Sekak sudah sedikit terlihat bukan, saya berharap ini merupakan momentum untuk kita saling meneroka apa yang ada di sekitar kita. Untuk memperjelas kembali, saya mencoba menuliskan alur Suku Sawang ke dalam diagram pohon. Berikut menurut pengamatan saya.

Nah, menarik ya. Terakhir, kurang lega rasanya kalau tidak menuliskan isi tutur sastra lisan di dalam Buang Jong. Tutur sastra lisan itu berupa mantra, saya dapatkan dari narasumber sesepuh Suku Sawang yaitu Maisina, Baida dan Sumiati dan sudah meminta izin untuk menuliskannya. Berikut tutur sastra lisan Buang Jong Suku Sawang.

*     BALAI BERANGIN (LAGU ANCAK)

Obelai penonang yasemek kusampai keraje Nabi

 

*     JITUN

Lolow Mentari dejawe binik ditingel tekurus kering

Usa telamak dejoket pèser, adau-adau daun la simpor bergulung

Lagulung urang la sikit ditawan badau

Utung la ade, timur mengulung

 

*     NGANTAR JONG

Dilew-dilew bareng kutantik teduk

Ku buak ibul sebetang, ku buak tali sautas

Kunyalidik de karang payong

Kunyalungkar de mongok delam

Bejuk la baluleng, Bejuk la baluli

Belum pulik, Belum pulang

 

*     BALIK KE DARAT

Balek de sawang, balek de aku di laut luas

 

*     NEK UNAI (NGAMBIK SEMANGAT)

Nek unai la tulung aku

Tuk uyup la bujang awang

Ke dayang inak

Urang podo tolong iyak

Urang pelo tolong podo

 

*     RAJE JENJANG RAJE

Raje jengjang raje

Bangun la bebangun

Tepuk la dade

Nyawak mengun iko

 

*     ANTU BERAYUN

DI BACAKAN PADA MALAM MINGGU MENJELANG PAGI (MELARUNG JONG KE LAUT)

Ayun di ngayun

Tupai kepayun

Melelang gemok

Melelang gemok kayu jualang

Pinang sekacep, Sire sesusun

Nak betemu, Sanak saudare

 

*    

DI BACAKAN PADA MALAM MINGGU MENJELANG PAGI (MELARUNG JONG KE LAUT)

 

RINTAK RINTIK

Sayang cempedak laman sebandar

Kalau berbuah tolong jolokkan

Kamek la mudak baru belajar

Kalok salah tulong tunjokkan

 

Masih banyak yang tersembunyi dengan Urang Sekak dan Samuderanya, untuk intro segini dulu ya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harta Karun Desa Limbongan

Rentak Bernyawa